بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

Assalamu'alaikum Warahmatullohi Wabarakatuh... Mohon Di isi Buku Tamunya ya kalau mampir, Terima kasih... ^_^

Selasa, 12 April 2011

Adab Bicara Terhadap Teman

 بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

Contohnya yang sering terjadi dikalangan muslimah ketika mereka berkumpul untuk sekedar melepas rindu atau bersilahturrahim disela-sela obrolan mereka terselip pertanyaan atau ungkapan yang mungkin menurut mereka wajar dan tidak akan membawa dampak yang berarti bagi kawannya atau sahabatnya.Bagi akhwat yang belum menikah biasanya mereka senang menyentil dengan perkataan: “Kapan mau nikahnya ukh?? atau sudah adakah ikhwan yang ta’aruf ke anti” kemudian ” jangan suka pilah-pilih nanti jadi perawan tua lho” sedangkan bagi akhwat yang sudah menikah pertanyaan yang sering terlontar adalah “Kapan mau isi?? (hamil) ayu cepetan nanti keburu tua! atau bagi yang sudah punya anak dan beranjak besar mereka akan berkomentar “Lho, kok belum nambah-nambah sih?? KB ya?? takut miskin kalau punya anak lagi??takut repot??! dan lain-lainnya.

Ups,..tunggu dulu ukh,…jangan kesal dan berkomentar : Lha apa yang salah dengan kalimat diatas?? kan memang sudah semestinya kita berkata demikian nasehat bagi mereka agar mereka cepat menikah atau memperbanyak keturunan??

Saya hanya ingin menarik garis merah dari kalimat-kalimat diatas yang sering terlontar dikalangan kita (muslimah) dimana saja berada. Pertama, secara tidak langsung kita membuat mereka susah dengan kata-kata itu memang niat kita baik menyarankan mereka untuk bersegera melakukan kebajikan tapi pernahkah hati kita memikirkan apa yang terjadi dikala mereka sendiri?? Tidakkah kita mengingat hadits dibawah ini??
” (HR.Bukhari hadits no.5715)”
Ya, kalimat yang baik adalah sebuah sedekah apabila kita tidak mampu bersedekah walau dengan sebelah butir kurma!! Sangat sulit untuk memberikan kalimat yang baik bagi saudara-saudara kita apabila kita tidak berusaha untuk berubah dan mencari tahu apakah kata-kata yang kita ucapkan menyakitkan perasaan lawan bicara kita ataukah tidak??
Pernah saya secara tidak sengaja berpapasan dengan akhwat yang belum menikah dan memang usianya sudah cukup layak bahkan sangat layak untuk menikah. Saya heran ketika melihat kesedihan diwajahnya dan berusaha untuk mencari tahu apa yang terjadi dengan dirinya. Dan, saya sangat terkejut ternyata basa-basi itu sangat menyakitkan hatinya, ia sampai bertanya kepada saya, apa yang kurang dengan dirinya?? dia sudah berusaha keras agar bisa menikah secepatnya tentu saja dengan usaha yang syar’i (tidak memajang dirinya di biro jodoh dikoran-koran atau majalah) tapi ternyata hingga saat ini Allah belum mempertemukan dirinya dengan idaman hatinya. Dan ia berusaha bersabar akan tetapi ternyata justru kawan-kawannya telah memvonisnya dengan ucapan sinis “suka pilah-pilih ikhwan sih makanya gagal terus” Subhanallah, dimanakah posisi kita pada saat itu?? sebagai saudaranya seiman yang membantunya dengan doa agar Allah mempercepat jodohnya ataukah malah membantu usaha setan agar ia berputus asa dari doanya?? wal iyyadzubillah.

Begitu pula masalah yang tidak jauh berbeda dikalangan akhwat yang telah menikah dan belum dikaruniai anak merekapun terkena sentilan yang sama dengan redaksi kalimat yang berbeda. Tidakkah kita mengetahui usaha mereka untuk mendapatkan anak ketika kita tidak bersama dengannya?? tidakkah kita membantunya dengan doa agar Allah mengabulkan doa mereka agar lekas dikaruniai seorang anak. Sungguh kondisi mereka secara psikologis tidak mengutungkan semestinya sebagai saudara kita tidak membuatnya susah dan gelisah. Pernahkah kita membesarkan hati mereka dengan mengatakan bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wassalam mendapatkan anak hanya dari khadijah radhiyallahu anha, adakah beliau medapatkan anak dari Aisyah atau Hafsah atau istri-istri beliau lainnya?? Tidakkah ukhti menyampaikan kisah Sarah istri Nabi Ibrahim yang hamil dikala usianya telah mendekati senja??Atau kisah Nabi Zakaria yang berdoa kepada Allah dengan suara yang lembut:
(QS.Maryam,4-5).“

Tidakkah ayat diatas menjadi teguran dan renungan buat kita semua bahwa Nabi manusia yang paling dekat hubungannya dengan Allah ternyata tidak mudah untuk mendapatkan keturunan.{mospagebreak}

Ironis memang dan itulah kenyataan yang terjadi dikalangan kita, bagi akhwat yang belum ‘nambah lagi “pun tak pelak terkena sindiran. La hawla wala kuwwata illa billah.Mereka berusaha mencari tahu apa yang terjadi dibalik itu apakah akhwat itu melakukan KB atau ada sebab-sebab lainnya. Rasa keingin tahuan yang tidak pada tempatnya ini sudah menjadi “hal yang lumrah” bahkan aneh bila tidak ditanyakan. Saya memiliki kawan yang menurut diagnosis dokter dia dilarang untuk mempunyai anak dulu sampai kondisi kesehatannya memungkinkan baginya untuk hamil lagi.Tadinya ia menurut saran dokter tersebut untuk memakai alat kontrasepsi hanya ketika ia bersama para sahabatnya yang terus menanyakan kenapa belum nambah-nambah juga membuatnya risi. Hingga akhirnya ia lebih menurut kepada fatwa teman-temannya yang tentu saja bukan ahli ilmu dalam bidang kedokteran daripada dokter yang merawatnya dengan ilmu yang bisa dipertanggungjwabkan dihadapan Allah, insya Allah.Padahal jelas mereka mengenal betul firman Allah :
” (An-Nahl:43)“
Mereka berdalih dengan kata-kata yang sangat akrab ditelinga kita “Tawakal ukh” teman ana juga mengalami kasus yang sama dengan ukhti tapi masya allah karena rasa tawakalnya yang tinggi kepada Allah ia berhasil melewati masa-masa kritisnya ketika melahirkan dimana rasa tawakal ukhti??” Ini adalah dalil yang senantiasa saya dengar. Subhanallah, ukhti semua semoga Allah merahmatimu kita diciptakan Allah dengan jenis tubuh yang berbeda ada diantara kita yang kuat dan lemah ada pula yang sering sakit dan selalu sehat (dengan izin Allah) bila kita perhatikan baik-baik tak ada satupun bentuk mata manusiayang kita lihat sama dan persis bentuknya, Setiap individu berbeda bentuknya Subhanallah. Itu adalah kebesaran Allah karena itu tentu saja fisik setiap orang adalah berbeda tidak bisa kita sama ratakan.Karena perkataan diatas nyaris kawan saya tersebut kehilangan nyawanya ketika akan melahirkan dan tentu saja menguras kocek yang tidak sedikit buntutnya beliau terlilit hutang yang sangat banyak akibat harus membayar biaya operasi dan perawatan selama dirumah sakit. Tidakkah kita kasihan kepadanya ya ukhti,..melihat apa yang dialami saudara kita akibat perkataan atau lisan yang menjerumuskan saudara kita pada keselamatan jiwanya dan kesusahan hatinya. Coba kita simak ayat berikut ini:
” (Al-Baqarah: 195)“
Dan juga hadits berikut ini yang termuat dalam kitab Al-Mustadrak Imam Hakim meriwayatkan sebuah hadits dari Abu Said Al-Khudriy:(HR.Hakim)“
{mospagebreak}

Dalam kitab Al-Muwaafaqat, Al-Imam Asy-Syathibi berkata:

“Hadits tersebut merupakan dalil zhanni yang termasuk dalam kaidah qath’i (pasti). Karena barang berbahaya dan berbuat sesuatu yang mendatangkan bahaya atas orang dalam konteks kaidah umum.Di antara bentuk-bentuknya ialah larangan bertindak aniaya terhadap diri sendiri, harta, dan kehormatan, juga larangan dalam segala macam tindak perkosaan (pelecehan seksual) dan tindak kezaliman. Seluruh perkara yang berbau “mendatangkan bahaya” termasuk di dalamnya. Demikian juga halnya dengan tindak aniaya terhadap diri, akal, garis keturunan dan harta.Tidak diragukan lagi, bahwa semua hal itu termasuk dalam kaidah umum syariat”.*

Ya, kita tidak akan pernah berfikir sampai sejauh itu bahwa lisan kita telah membahayakan jiwa saudara atau teman kita.Karena itu wajarlah bila lisan ini nanti yang akan menyebabkan seorang hamba tertelungkup di neraka. Kita berlindung kepada-Nya dari kejahatan lisan ini.
Mudah bila kita mau berusaha menjaga bicara kita agar tetap lurus dalam kaidah syariat. Yaitu perbanyaklah berbaik sangka kepada kawan atau saudara kita seiman dimana saja kita berada. Sehingga hati ini akan terasa lapang dan terjaga dari usil

ingin tau dan ikut campur urusan pribadi teman atau sahabat maupun saudara kita. tetapi bukan berarti kita tidak menasehati atau melupakan amar ma’ruf nahi mungkar semua ada adabnya dan tentu saja kita melaksanakan amal tersebut dengan menjunjung tinggi akhlakul karimah.Berbaik sangka merupakan perintah Allah yang wajib kita taati dan harus kita amalkan dalam kehidupan ini. Allah berfirman:

(Al-Hujuraat ayat 12).“
.Artinya janganlah kamu mencari (menguntit) aib orang lain dan janganlah kamu mencari-cari rahasianya (hal-hal yang disembunyikannya) atau dengan kata lain memata-matai.(Ringkasan tafsir thabari hal 517).yaitu Imam Thabari dalam kitab tafsirnya menjelaskan maksud ayat

Tentu ukhti pernah mendengar bagaimana adab bertamu dimana kita harus menahan pandangan kita dari melihat kesegala arah karena bila tuan rumah mencolok mata kita maka itu diperbolehkan baginya.(HR.Muslim).“
Bila hal yang demikian jelas larangannya bagaimana dengan sikap keinginan tahu kita terhadap urusan rumah tangga mereka mengapa belum mau nambah anak atau belum juga dikaruniai seorang anak??atau mengapa kawan kita belum juga menikah??? Bila memang dalil dan hujjah sudah ditegakkan kepada mereka dan mereka mengetahuinya maka berbaik sangkalah kepada mereka. Semua hamba Allah akan mempunyai udzur di hadapan Rabb-Nya.Kita serahkan kepada Allah Ta’ala.Sehingga jadilah kita pribadi-pribadi muslimah yang baik akhlaknya, baik bicaranya dan apabila tidak sanggup untuk berbicara yang baik maka islam menganjurkan kita untuk diam. Karena ia lebih selamat.

Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita semua karena IA adalah Maha Pengampun.Dan semoga kita para muslimah terketuk hatinya untuk berubah serta memperbaiki akhlak dan lisan mereka ketika berbicara terhadap saudara kita seiman sehingga kesalahan-kesalahan diatas tidak akan terulang lagi.Insya Allah, wallahu a’alam bish-shawwab.

*Lihat : Bahaya narkoba mengancam umat hal:26

Sydney, 9 februari 2005
Maraji’:

1. Al-Qur’anul Karim dan Terjemahnya, cetakan Madinah
2. Ringkasan tafsir At-Thabari, Beirut, lebanon
3. Bahaya Narkoba Mengancam Umat, Darul Haq, Jakarta,2000M
4. Terjemah Shahih Bukhari,Asy-Syifa Semarang
5. Ringkasan Shahih Muslim, Al-Mundziri, Pustaka Amani, Jakarta 2003M.

>> http://jilbab.or.id/archives/212-ingin-bicara-ingat-adabnya/#more-212








Follow Me on Twitter
Read more : http://www.wakrizki.net/2011/02/membuat-komentar-facebook-sederhana.html#ixzz1edscyuUm

Selasa, 15 Maret 2011

Pacaran nggak ya ???


Bismillah....

semoga kisah ini bisa diambil ibrohnya.

***

Siang itu,,,,,,,,, HPku bunyi tanda sms masuk.
Ku buka dan ternyata dari mbak Zahra. Mbak Zahra itu kakak kelasku waktu SMA, satu-satunya akhwat berkerudung gede di sekolahku dulu, tapi saat aku masuk kelas satu, mbak Zahra dah lulus, jd kami gak kenal sampai suatu saat mbak Zahra datang ke sekolahku, dan ternyata beliau temen akrab saudaraku, terus aku dikenalin deh sama beliau.

Eh kembali ke sms tadi ya…

Isi smsnya gini : “assalamu’alaikum dek, apakabar sayang? Afwan ya sebelumnya, mbak mau tanya, apa bener adek pacaran sama dek arya?”

Haduh, kaget, heran, dan bingung, dari mana mbak Zahra tau hal itu dan aku harus jawab apa tentang pertanyaan mbak Zahra itu? Huuufth,, kalo aku jawab jujur pasti mbak Zahra akan kecewa ma aku, tapi kalo aku bohong, ah gak tega aku bohong kepada orang yang selalu baik ma aku.

Agak lama ku bales sms itu, aku mikir-mikir dulu baiknya bales apa. Dan ku putuskan untuk jujur ma beliau.

Ku bales smsnya : “wa’alaikumussalam mbak Zahra. Alhamdulillah kabar adek baik. Emmmm, iya mbak, adek mmg pacaran sama arya, tapi adek memilih dia bukan karena kekayaannya, mbak tau kan arya orangnya gimana, dia baik mbak. maaf ya mbak adek dah buat mbak Zahra kecewa”

Hmmm, lamaaa ku tunggu balesan sms dari mbak Zahra, dalam pikirku selalu bertanya-tanya, apakah mbak Zahra akan kecewa? Akan marah? Aduhhh, bingung banget dan akhirnya ku buka FBku. Daaaan, dah ada beberapa catatan di dindingku dari mbak Zahra, catatan-catatan tentang VMJ (Virus Merah Jambu).

ku baca satu persatu catatan-catatan itu, yah ngena padaku, aku yang sedang terkena VMJ.

ku sms mbak Zahra, “mbak, makasih banget ya catatan-catatannya, adek dah baca semua. Adek seneng punya kakak kayak mbak Zahra, selalu ingetin adek ya mbak.”

Trus beliau jawab, “iya dek, sama-sama, semoga bermanfaat. Afwan ya sayang, mbak sama sekali tidak bermaksud untuk menggurui adek, mbak tau mbak bukan siapa-siapa adek, tapi mbak lakuin semua ini karena mbak sayang ma adek. Bukan kah ini gunanya ukhuwah? saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran. Cinta memang gak salah dek, cinta itu cahaya sanubari kurniaan tuhan fitrah insani –hehe, jadi nyanyi-, tapi terkadang aplikasi dari rasa cinta itu yang kurang tepat.”

Belum sempet ku bales smsnya, masuk sms dari mbak Zahra lagi,” Mbak tadi dah baca pesan dari arya di dinding FB adek, "Ummi, MU..........."
trus adek bales ‘MUT Abii............"

 MU (miss u) dan MUT (miss u too) iya kan dek??
Bukan Manchester United toh,,,

Ummi?? Abi?? menurut mbak itu kurang pantas dilakukan oleh sepasang kekasih yang belum halal, apalagi adek seorang akhwat berkerudung besar, paham agama, dan begitu pula arya, kalian dah paham bagaimana seharusnya interaksi ikhwan akhwat yang bukan mahramnya. Mbak bener-bener minta maaf ya sayang, sungguh mbak gak bermaksud menggurui adek, semua mbak lakuin karena mbak sayang ma adek.”

Gubrak, baru nyadar aku, mungkin mbak Zahra tau kalo aku pacaran ma arya dari tulisan-tulisan arya di dindingku. Aduuuuh bingung aku jawabnya. Ditengah kebingungan ku, ku bales smsnya, “iya mbak, adek tau adek salah, makasih banget ya mbak dah diingetin.”

Tapi entah, aku tetep aja pacaran ma arya, pesan dari mbak zahra serasa masuk telinga kiri keluar telinga kanan, lhoh, parah banget ya.

********************************************************************************

Hari berganti hari, dan tibalah suatu saat aku tau bahwa arya punya pacar selain aku. Deg, sakiiit banget rasanya hati ini, orang yang selama ini ku sangka baik ternyata gak beda dengan buaya yang lain. Ku menangis di kamar, aku harus cerita kpd siapa tentang masalah ini, di sini aku hanya tinggal dengan kakek dan nenek, orang tuaku berada di luar kota. Yah, aku bingung, dan teringat aku pada mbak Zahra, lalu ku sms beliau, “ assalamu’alaikum, mbak Zahra ada di rumah gak? Adek mau ke tempat mbak."

Tak lama kemudian ada balasan,”wa’alaikumussalam warohmatullah dek,, iya sayang, mbak ada di rumah, sini dek kalo mau maen ketempat mbak, mbak tunggu ya sayang.”

Ku langsung kayuh sepedaku menuju rumah mbak Zahra. Ternyata mbak Zahra dah ada di depan rumah menunggu ku. “assalamu’alaikum mbak”, ucapku sambil menahan tangis. “wa’alaikumussalam warohmatullah adekku, sini sayang duduk dulu, mbak tingal ke dalam sebentar ya”

Ku duduk dan tak sabar ingin segera menceritakan masalahku. Tak lama kemudian mbak Zahra keluar dan membawa dua gelas air teh dan makanan kecil. “yuk dek di makan dulu” ajak mbak Zahra.

Pas mbak Zahra duduk, aku langsung rebahkan kepalaku di pangkuannya sambil nangis. Mbak Zahra bingung dan bertanya,”lhoh dek, kenapa ini kok nangis? Ada masalah apa sayang?”

Sambil menangis ku jawab,”mbak, arya punya pacar lagi, adek sakit hati banget tau hal itu.”Dengan lembut mbak Zahra mengelus kepalaku dan mengatakan, “emmm,, sabar ya sayang, semua pasti ada hikmahnya. Sekarang tenangkan hati adek dulu. Yuk diminum dulu biar lebih tenang.”

Setelah minum, mbak Zahra melanjutkan, “adekku sayang, mbak tau adek pasti sakit hati, tapi coba lihat deh sisi lainnya. Seharusnya adek bersyukur ditunjukkan oleh Allah tentang siapa arya sebenarnya, dan ini menunjukkan kasih sayang Allah padamu dek. Allah menegur adek dengan sangaaat halus. Mungkin dengan cara ini adek bisa bermuhasabah, misalnya saja ketika adek pacaran dengan arya seberapa sering adek mengingat dia, lebih banyak mengingat Allah ato malah lebih banyak mengingat arya? Mungkin itu salah satu hal yang membuat Allah cemburu, maka dari itu Allah mengingatkan adek melalui masalah ini.”

ku jawab, " iya mbak, adek memang lebih banyak mengingat arya daripada Allah."

"emm,, Allah sayang padamu dek, Allah menegur adek sebelum adek terlalu larut dalam buaian arya. inget adekku, hal yang menurut kita baik, belum tentu baik menurut Allah. sekarang ambil hikmahnya ya sayang. banyak-banyak istighfar, mohon ampun pada Allah ya sayang", kata mbak zahra.

*********************************************************************************

malamnya, aku terbangun dari tidurku. ku lihat jam dinding di kamar, menunjukkan jam 2 dini hari. ku ambil air wudhu dan ku shalat tahajjud, ku renungkan kembali apa yang dikatakan mbak zahra, aku lebih sering mengingat arya daripada mengingat Allah. sapaan dan kalimat-kalimat romantis yang tidak pantas aku ucapkan kepada ikhwan yang belum menjadi mahramku, membuatku malu saat mengingat itu. ku termenung, aku tempatkan diposisi berapa Allah sedangkan aku malah sibuk mengingat orang lain, aku lebih sibuk menangisi sakit hati gara-gara dikhianati pacar daripada sibuk menangisi dosa. ahh,, ya Allah,, hamba mohon ampun.. sujud tersungkur hamba memohon ampun pada-Mu ya Robb.

 pukul 3.15 dini hari usai aku tahajjud, ku buka komputerku dan aku buka FBku. bismillah, ku ulangi lagi membaca catatan-catatan yang mbak zahra pernah tag ke aku, yah saat ini ku baca ketika virus merah jambu itu sudah berubah menjadi abu-abu. catatan demi catatan ku pahami, tidak seperti dulu, ku baca hanya sekilas dan itupun sambil lalu.nangis di depan komputer saat itu, kenapa tidak dari dulu ku buka hatiku untuk memahami pesan-pesan dari mbak zahra? kenapa baru ku sadari saat aku merasa sakit hati dikhianati oleh arya?
buat mbak zahra, jazakillah khair atas nasehat-nasehatnya, adek bisa tegar menghadapi ini berkat bantuan dari mbak.

ya Allah, terimakasih atas semua yang Kau anugerahkan padaku, hidayahMu, saudara-saudara yang membantu aku menuju jalan-Mu.
Alhamdulillah...

“Yaa muqollibal quluub tsabbit qolbiy ‘alaa diinika wa’ala thoo’atika”

(wahai yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku untuk tetap konsisten dalam dien-Mu dan dalam menta’ati-Mu).

Amin........................



********************************************************************************


2. Kenapa Harus Memilih Wanita Sholehah?


www.dakwatuna.com :

Terkadang orang heran dan bertanya, kenapa harus mereka yang bajunya panjang, tertutup rapat, dan malu-malu kalau berjalan..??

Aku menjawab.. Karena mereka, lebih rela bangun pagi menyiapkan sarapan buat sang suami dibanding tidur bersama mimpi yang kebanyakan dilakukan oleh perempuan lain saat ini..

Ada juga yang bertanya, mengapa harus mereka yang sama laki-laki-pun tak mau menyentuh, yang kalau berbicara ditundukkan pandangannya..??

Bagaimana mereka bisa berbaur…

Aku menjawab.. Tahukah kalian.. bahwa hati mereka selalu terpaut kepada yang lemah, pada pengemis di jalanan, pada perempuan-perempuan renta yang tak lagi kuat menata hidup. Hidup mereka adalah sebuah totalitas untuk berkarya di hadapan-Nya.. Bersama dengan siapapun selama mendatangkan manfaat adalah kepribadian mereka.. Untuk itu, aku menjamin mereka kepadamu, bahwa kau takkan rugi memiliki mereka, kau takkan rugi dengan segala kesederhanaan, dan kau takkan rugi dengan semua kepolosan yang mereka miliki.. Hati yang bening dan jernih dari mereka telah membuat mereka menjadi seorang manusia sosial yang lebih utuh dari wanita di manapun..

Sering juga kudengar.. Mengapa harus mereka?

Yang tidak pernah mau punya cinta sebelum akad itu berlangsung, yang menghindar ketika sms-sms pengganggu dari para lelaki mulai berdatangan, yang selalu punya sejuta alasan untuk tidak berpacaran.. bagaimana mereka bisa romantis? bagaimana mereka punya pengalaman untuk menjaga cinta, apalagi jatuh cinta?

Aku menjawab..

Tahukah kamu.. bahwa cinta itu fitrah, karena ia fitrah maka kebeningannya harus selalu kita jaga. Fitrahnya cinta akan begitu mudah mengantarkan seseorang untuk memiliki kekuatan untuk berkorban, keberanian untuk melangkah, bahkan ketulusan untuk memberikan semua perhatian.

Namun, ada satu hal yang membedakan antara mereka dan wanita-wanita lainnya.. Mereka memiliki cinta yang suci untuk-Nya.. Mereka mencintaimu karena-Nya, berkorban untukmu karena-Nya, memberikan segenap kasihnya padamu juga karena-Nya… Itulah yang membedakan mereka..

Tak pernah sedetikpun mereka berpikir, bahwa mencintaimu karena fisikmu, mencintaimu karena kekayaanmu, mencintaimu karena keturunan keluargamu.. Cinta mereka murni.. bening.. suci.. hanya karena-Nya..

Kebeningan inilah yang membuat mereka berbeda… Mereka menjadi anggun, seperti permata-permata surga yang kemilaunya akan memberikan cahaya bagi dunia. Ketulusan dan kemurnian cinta mereka akan membuatmu menjadi lelaki paling bahagia..

Sering juga banyak yang bertanya.. mengapa harus mereka?

Yang lebih banyak menghabiskan waktunya dengan membaca Al-Qur’an dibanding ke salon, yang lebih sering menghabiskan harinya dari kajian ke kajian dibanding jalan-jalan ke mall, yang sebagian besar waktu tertunaikan untuk hajat orang banyak, untuk dakwah, untuk perubahan bagi lingkungannya, dibanding kumpul-kumpul bersama teman sebaya mereka sambil berdiskusi yang tak penting. Bagaimana mereka merawat diri mereka? bagaimana mereka bisa menjadi wanita modern?

Aku menjawab..

Tahukah kamu, bahwa dengan seringnya mereka membaca al Qur’an maka memudahkan hati mereka untuk jauh dari dunia.. Jiwa yang tak pernah terpaut dengan dunia akan menghabiskan harinya untuk memperdalam cintanya pada Allah.. Mereka akan menjadi orang-orang yang lapang jiwanya, meski materi tak mencukupi mereka, mereka menjadi orang yang paling rela menerima pemberian suami, apapun bentuknya, karena dunia bukanlah tujuannya. Mereka akan dengan mudah menyisihkan sebagian rezekinya untuk kepentingan orang banyak dibanding menghabiskannya untuk diri sendiri. Kesucian ini, hanya akan dimiliki oleh mereka yang terbiasa dengan al Qur’an, terbiasa dengan majelis-majelis ilmu, terbiasa dengan rumah-Nya.

Jangan khawatir soal bagaimana mereka merawat dan menjaga diri… Mereka tahu bagaimana memperlakukan suami dan bagaimana bergaul di dalam sebuah keluarga kecil mereka. Mereka sadar dan memahami bahwa kecantikan fisik penghangat kebahagiaan, kebersihan jiwa dan nurani mereka selalu bersama dengan keinginan yang kuat untuk merawat diri mereka. Lalu apakah yang kau khawatirkan jika mereka telah memiliki semua kecantikan itu?

Dan jangan takut mereka akan ketinggalan zaman. Tahukah kamu bahwa kesehariannya selalu bersama dengan ilmu pengetahuan.. Mereka tangguh menjadi seorang pembelajar, mereka tidak gampang menyerah jika harus terbentur dengan kondisi akademik. Mereka adalah orang-orang yang tahu dengan sikap profesional dan bagaimana menjadi orang-orang yang siap untuk sebuah perubahan. Perubahan bagi mereka adalah sebuah keniscayaan, untuk itu mereka telah siap dan akan selalu siap bertransformasi menjadi wanita-wanita hebat yang akan memberikan senyum bagi dunia.

Dan sering sekali, orang tak puas.. dan terus bertanya.. mengapa harus mereka?

Pada akhirnya, akupun menjawab…

Keagungan, kebeningan, kesucian, dan semua keindahan tentang mereka, takkan mampu kau pahami sebelum kamu menjadi lelaki yang shalih seperti mereka..

Yang pandangannya terjaga.. yang lisannya bijaksana.. yang siap berkeringat untuk mencari nafkah, yang kuat berdiri menjadi seorang imam bagi sang permata mulia, yang tak kenal lelah untuk bersama-sama mengenal-Nya, yang siap membimbing mereka, mengarahkan mereka, hingga meluruskan khilaf mereka…

Kalian yang benar-benar hebat secara fisik, jiwa, dan iman-lah yang akan memiliki mereka. Mereka adalah bidadari-bidadari surga yang turun ke dunia, maka Allah takkan begitu mudah untuk memberikan kepadamu yang tak berarti di mata-Nya… Allah menjaga mereka untuk sosok-sosok hebat yang akan merubah dunia. Menyuruh mereka menunggu dan lebih bersabar agar bisa bersama dengan para syuhada sang penghuni surga… Menahan mereka untuk dipasangkan dengan mereka yang tidurnya adalah dakwah, yang waktunya adalah dakwah, yang kesehariannya tercurahkan untuk dakwah.. sebab mereka adalah wanita-wanita yang menisbahkan hidupnya untuk jalan perjuangan.

Allah mempersiapkan mereka untuk menemani sang pejuang yang sesungguhnya, yang bukan hanya indah lisannya.. namun juga menggetarkan lakunya.. Allah mempersiapkan mereka untuk sang pejuang yang malamnya tak pernah lalai untuk dekat dengan-Nya.. yang siangnya dihabiskan dengan berjuang untuk memperpanjang nafas Islam di bumi-Nya.. Allah mempersiapkan mereka untuk sang pejuang yang cintanya pada Allah melebihi kecintaan mereka kepada dunia.. yang akan rela berkorban, dan meninggalkan dunia selagi Allah tujuannya.. Yang cintanya takkan pernah habis meski semua isi bumi tak lagi berdamai kepadanya.. Allah telah mempersiapkan mereka untuk lelaki-lelaki shalih penghulu surga…

Seberat itukah?

Ya… Takkan mudah.. sebab surga itu tidak bisa diraih dengan hanya bermalas-malasan tanpa ada perjuangan…

Sumber(1) : http://www.facebook.com/note.php?note_id=185444318142506


Sumber(2) : http://www.dakwatuna.com/2010/kenapa-harus-wanita-shalihah/







Follow Me on Twitter
Read more : http://www.wakrizki.net/2011/02/membuat-komentar-facebook-sederhana.html#ixzz1edscyuUm

Rabu, 23 Februari 2011

Menjadi orangtua adalah mudah Tapi berperan sebagai orangtua adalah lebih sulit


dakwatuna.com  – Saat itu jarum jam menunjukkan pukul satu malam, yang berarti baru satu jam berlalu putri kecilku genap berusia 4 tahun. Ia tengah tertidur lelap, kerudung berwarna pink dengan motif bunga-bunga kecil masih melekat di kepalanya. Saya tatap wajahnya yang menentramkan itu, ada kilasan peristiwa berkelebat saat pandangan tertuju pada kerudung kesayangannya…

“Bunda, kenapa setiap bunda keluar rumah selalu menutup rambut dengan kerudung besar itu?”, putri kecilku bertanya dengan binar mata penuh rasa ingin tahu.

Sejenak saya terdiam, memikirkan kalimat apa yang pantas diucapkan agar dipahaminya. Lalu sambil berjongkok di hadapannya, saya coba menjawab…

“Karena Bunda ingin disayang dan dijaga Allah maka Bunda turuti apa yang diperintahkan Allah… Allah menyuruh perempuan yang sudah besar untuk menutupi rambut supaya tidak ada yang mengganggunya. Tapi, tak hanya rambut lhoo…, semua bagian tubuh kecuali wajah dan telapak tangan harus ditutup juga dengan pakaian yang seperti Bunda pakai ini”, urai saya.

“Ooo… gitu ya?”, gumamnya perlahan…matanya mengerjapkan gemintang rasa ingin tahu lebih jauh…

“Yang boleh lihat hanya ayah, kakak, aku dan adek ya?” ia lontarkan kembali sebuah tanya.

“Masih ada selain mereka yang boleh lihat, tapi lain kali aja ya Bunda kasih tahunya?” terlihat putriku mengangguk mengiyakan permintaan saya.

“Bunda, aku suka lihat Bunda pakai kerudung…karena Bunda jadi disayang Allah”, ungkap putriku sambil menghambur dalam pelukan.


“Aku juga mau pake ah! Aku juga ingin dijaga dan disayang Allah!” ujarnya sambil berlari menuju lemari miliknya. Ia mengambil sehelai kerudung lalu mengenakannya.

Kuacungkan kedua jempol tanganku tanda menyetujui dan memuji sikapnya. Putriku tersenyum senang kemudian berlari ke halaman rumah, bergabung kembali dengan kakaknya yang sedang asyik bermain di teras.

Tak disangka sejak itu ia selalu ingin mengenakan kerudung setiap kali keluar rumah. Seringkali kami membujuknya agar ia melepas kerudungnya itu setelah seharian bermain di luar. Tetapi ia selalu menolak. Kalaupun dilepas hanya saat akan mandi, setelah itu ia akan mengenakannya kembali.

“Aku ingin dijaga dan disayang Allah, seperti Allah menyayang Bunda!” ucapnya ketika suatu hari saya tanya kenapa ia tak mau melepas kerudungnya.

Subhanallah! jawaban polosnya membuat saya menyesal karena selama ini selalu membujuknya agar ia melepas kerudung saat ia berkeringat kelelahan dan kepanasan. Padahal ia tak pernah mengeluhkan keadaan dirinya bahkan kelihatannya tetap merasa nyaman.

Di lain waktu berbeda lagi motivasi memakai kerudungnya, ia mengatakan pada saya bahwa ia merasa malu ketika orang melihat rambutnya. Putri kecilku tak suka rambut indahnya menjadi perhatian dan merasa jengah mendengar komentar atau pujian orang.

Subhanallah! rasa hati semakin tak menentu…Maafkan bundamu ya nak?… Bunda tidak peka akan keinginan baikmu untuk meraih cinta Allah di usia beliamu…kuusap kepala putriku yang terlindung kerudung kesayangannya itu.

Kembali saya tatap wajah damainya… terbayang suatu waktu ia pernah merajuk dan menangis dengan kencang ketika bangun tidur mendapatkan matahari sudah menyemburatkan cahayanya. Di sela sedu-sedannya, ia mengatakan bahwa dirinya sedih karena saya dan suami tidak membangunkannya untuk shalat subuh berjamaah di masjid.

Subhanallah! Kami terperangah…sungguh tak disangka ternyata putri kecilku memiliki keinginan yang sangat mulia. Ia ingin shalat subuh bersama ayahnya di masjid. Kakaknya pun melayangkan protes yang sama pada kami, mengapa ia dan adiknya tidak dibangunkan saat adzan berkumandang? Tak ada yang dapat kami ucapkan saat itu selain permintaan maaf dan berjanji akan membangunkan mereka untuk subuh yang akan datang.

Harus saya akui, seringkali saya terjebak dalam rasa kasihan pada anak-anak, merasa mereka masih terlalu kecil untuk melakukan hal itu. Perasaan tak tega membangunkan mereka agar turut ayahnya menembus gelap dan dingin subuh menuju masjid, kerap memenuhi pikiran saya. Astaghfirullah!

Semestinya kami bersyukur ketika mendapatkan buah hati yang memiliki kecenderungan kuat untuk melaksanakan titahNya meski di usia dini mereka. Namun, entah kenapa selalu melintas dalam pikiran kami rasa kasihan, bahwa mereka masih terlalu kecil untuk melakukan semua kebaikan yang saat ini dengan senang hati mereka lakukan. Alangkah naifnya kami…

Padahal bukankah lebih baik jika dilakukan pembiasaan sejak usia dini bagi permata hati kita sejauh tidak dalam bentuk pemaksaan agar tumbuh kecintaan dalam pribadi mereka untuk mentaati perintah dan larangan Allah?

Benarlah sebuah pepatah Jerman mengatakan „Eltern werden ist einfach, Eltern zu sein ist schwierig“ (menjadi orangtua adalah mudah tapi berperan sebagai orangtua adalah lebih sulit). Saya merasakan diri ini masih sangat jauh untuk dapat bersikap bijak dalam menyikapi tingkah anak baik sikap yang positif maupun negatif . Di samping itu saya pun masih perlu belajar banyak untuk bisa konsisten dengan apa yang kami inginkan dari diri anak-anak untuk menjadi pribadi shalih, tentunya dengan mendukung segala kebaikan yang dilakukan mereka, bukan sebaliknya.

Astagfirullahaladzhim!… saat menatap wajah-wajah tanpa dosa itu, bongkahan rasa bersalah menyesak di ulu hati.

Saya jadi teringat dengan seorang ibu di Berlin.Belum lama berselang suaminya yang berkebangsaan Jerman, wafat. Meninggalkan ia beserta dua putrinya yang masih di bawah umur. Ibu tersebut bercerita pada saya melalui e-mail tentang azzamnya untuk terus berupaya mengenalkan Islam kepada kedua buah hatinya. Semangat yang tersirat dalam tulisannya itu saya rasakan tak berubah sejak saya mengenalnya pertama kali di sebuah masjid tempat berkumpulnya muslimin- muslimat Indonesia. Saya melihat sendiri betapa ia berusaha sekuat daya membiasakan buah hatinya untuk berinteraksi dan belajar banyak hal tentang Islam dalam masjid tersebut. Meskipun jarak rumahnya dengan masjid cukup jauh dan sering terkendala dengan kondisi cuaca, semangat itu tak pernah pudar dari dirinya. Ia berharap pembiasaan sejak dini pada buah hatinya dapat menjadi benteng iman mereka ketika menghadapi budaya di negeri tempat mereka bermukim.

Ada pula ibu lainnya yang membuat saya kagum. Sama halnya dengan ibu yang pertama tadi, ia pun menikah dengan pria Jerman dan dikaruniai tiga orang putra yang kini beranjak remaja. Saya sering bertemu dengan ketiga putranya itu di hari ahad saat mereka akan belajar untuk menambah wawasan keislamannya di masjid Indonesia tersebut. Di masjid bernama Al-Falah itu, memang diadakan program kajian khusus untuk para remaja Indonesia- Jerman yang dipandu mualaf Jerman bernama Daniel serta beberapa guru lainnya. Mereka pun selalu hadir saat shalat tarawih di bulan Ramadhan. Melihat sosok mereka, saya jadi teringat akan cerita sang ibu bagaimana ia berjuang mendidik dan mengkondisikan agar ajaran agama terpatri dalam kepribadian mereka…Ya, ibunya mengkondisikan ruhani anaknya agar selalu tertaut pada <span>Islam</span> sejak mereka masih kecil. Subhanallah!

Masih banyak deretan ibu lainnya melintas dalam benak saya dengan segala upaya keras mereka sebagaimana kedua ibu tersebut. Lantas kenapa saya masih terpaku pada sebuah alasan bahwa mereka masih terlalu kecil untuk dikenalkan pada kewajiban terhadap agamanya yang kelak mesti mereka jalankan? Saya harus menepis pikiran itu dan mulai menyalakan semangat untuk mendidik dan mengenalkan keindahan ajaran Islam di usia belia mereka agar kelak menjadi pribadi-pribadi berakhlaq mulia dalam naungan cahaya Islam.

Saat menatap kembali wajah-wajah suci belum tersentuh dosa itu…saya berharap dalam hati, semoga belum terlambat untuk segera memperbaiki kekeliruan diri.

Di hari kelahiran putriku… bersimpuh diri ini padaMu Ya Allah, ampunilah kelalaian kami.. bimbinglah selalu kami untuk bisa mendidik amanah sekaligus karunia dariMu ini hingga dapat menghantarkan mereka menjadi pribadi-pribadi shalih yang mencintaiMu dan Engkau cintai, amiin.

Inilah salah satu hal mengapa saya suka menatap wajah mereka dalam lelap tidurnya… ada selaksa asa, ada sebersit azzam dan ada segumpal kesadaran untuk melakukan koreksi diri.


(Risalah hati, 19 November 2010)



Sumber : http://www.facebook.com/notes/bangga-memakai-jilbab-dan-melihat-wanita-berjilbab/segumpal-kesadaran/189947471015799

Read more : http://www.wakrizki.net/2011/02/membuat-komentar-facebook-sederhana.html#ixzz1edscyuUm

Main Hamster Yu..

(Klik Untuk Memberi Makan Hamster)



Sambil Dengerin Musik juga yu :


Ust Jefri :
Opick :
Ungu :
Dadali :
Wali :

Di Share and Like yuk :

Suka?
Tolong kasih tahu ke temen-temen kamu ya,
Gampang kok tinggal klik tombol SHARE atau LIKE dibawah ini kemudian login ke facebook atau twitter kamu deh.
Thanks. Mudah-mudahan bermanfaat.
Salam hangat. Nasrul Pradana, ^_^
===========================================================